Pada kesempatan kali ini saya akan mempublikasikan puisi yang pernah saya buat dalam rangka "Memperingati Hari Bulan Bahasa" sekitar tiga bulan yang lalu. Puisi ini menjadi puisi keenam yang menghantarkan saya pada kejuaraan tingkat Kabupaten sebagai juara kedua. Ini dia puisinya..
~ ~BUNGA TIDUR PEMUDA TATAR SUNDA~ ~
Angela Pramuditha K.S
Angin terbangkan lebatnya angan
Petualangi keindahan budaya Periangan
Tatar Sunda...
Keris ini menuntun jemari bedah jiwa ragamu
Merangkul gumpalan penghidup nyawamu
Tangan-tangan kecilku mulai menari merasuki titik merah ruhmu..
Ku termangu...
Berbisik lirih nafasmu
Dengannya tatapan makna hangatkan telingaku
Menyapaku
Mengalun lembut bersama riangnya nada"Sampurasun?"
Beriring pasukan nada berdendang
Memangku keawaman ke ruang tak bertiang...
Pecah.... Sesaat berkoar tanda akhir juang
Menyinggung muram ruh Tatar Sunda ke ujung jurang
Tatar Sunda...
Ia hanya menyapih akar-akar 'tuk menyisir semenanjung angan di
pepohonan kelam menderai
Dibuainya beragam coraknya dalam dada yang berkobar
Tebarkan benih bahasa asihmu dengan jiwa berdebar
Bahasa Sunda Kau harus berakar
Selamatkan Ibu pengasuh yang 'tak minta dibayar
Kini
Insan bangga lidah digoyah busung asing
Tegak dimanja polusi
Busung asing lumrah bak putaran angin
Teguk hempasan duri-duri dengki
Menistakan tunas kelapa Tatar Sunda ini
Renda- renda malu terpamer di muka tunas muda Tuk Berbahasa Sunda
Rembulan sedu senda berduka
Bergugur suka cita buket kata
Ciut kini Tatar Sunda tampung karang bintang perkasa
Tersangkut bahasa di tirai kupu kupu
Hantarkannya pada ranting lepuh
Ikut bergugur bersama helai rindu ditelan tanah lugu
Berikan ambang peluang pada negeri sebelah laut
Alampun bersahaja pilu
Tak rela Kau dihardik, direbut bangsa itu
Kau... Aset unik perekah bangsaku
Elang lugu melongo
Saksikan jutaan insan berdemo
Tuaikan aspirasi buket kataku berseri
Di pangkuan ibu pengasuh yang kini sendiri
Sebuah lampu kristal di ujung jalan sana menyimpan kuntum tanya,"Pemilik yang lengah, yang waktu silam mengejar bayangan musuh. Sudikah buket katamu bermanja di pelukanmu lagi?"
Terbangunku dari mimpi
Itu tamparan buana
Buket kataku masih menyinarkan cahaya pustaka
Temani corak Periangan yang berjuta- juta
Kujanji memasyarakakan aset ini
Dirangkul daku silau sang mega
Masih terbenak mimpi semalam itu
Sesaat ku tak ingin terpejam
